Surga & Anak

Kemarin untuk pertama kalinya saya mendengar perspective dari point yang sama dengan saya tentang surga dibawah telapak kaki ibu. Saya pun sumringah dan memberanikan diri untuk menuangkannya dalam tulisan, sesuatu yang selama ini hanya bahan rundingan, persamaan pemahaman bersama antara saya dan pasangan.

Saya melihat ini dari kacamata saya sebagai ibu tapi dari sudut yang lain. Sudut pembebasan saya menyebutnya, bahwa saya lah yang memperkenalkan, menunjukkan dan memberikan surga itu untuk anak saya, saya manusia pertama, lakon, kaca, rumah, sandaran ke surgaan anak saya, karena anak itu adalah tanggung jawab saya dan hasil dari keputusan sadar dan tindakan saya.

Tentu ini dengan deskripsi surga saya, yang mungkin berbeda dengan yang lain. Surga saya adalah kebahagiaan nyata disini bukan diawang awang yang didapat setelah kematian, tapi real world, dunia nyata saat ini, karena disinilah sekarang saya hidup.

Lenyapnya expectasi, memberikan kebebasan untuk saya, memberikan saya ruang untuk menikmati hidup dengan surga saya yang akan terpancar dari semua yang saya lakukan pada anak saya, satu kesatuan, yang tanpa anak pun perlu saya lakukan untuk diri saya sendiri sebagai manusia, surga saya ada pada diri saya sendiri. Ketika saya bisa mencapai surga saya, menikmati surga , saya dapat memberikan itu untuk anak saya.

Berarti harus menunggu sampai kamu menemukan surga dong? tidak karena surga yang saya inginkan berasal dari perjalanan sadar saya, surga saya bermanifestasi dalam segala bentuk kepuasan dan kekecewaan, surga saya bergaris tipis dengan neraka, semua ada dalam pikiran saya, dan semua ada ditangan saya, apakah saya mau menarik garis itu keluar, meleburkan atau membiarkan terpisah.

Surga saya adalah kebahagiaan, dan kebahagiaan adalah pilihan dan keputusan sadar.

Setiap detik anak saya dapat menikmati dirinya, menunjukan kepuasan atas dirinya sendiri, berhasil menakhlukkan kegalutannya, bahagia dengan hal hal kecil, semua itu surga saya dan surga buat anak saya, semua itu adalah jalan panjang yang akan membuatnya menjadi manusia resilient, seimbang dan berkepenuhan.

Apakah saya sudah sempurna? dan berhasil memberikan surga, tentu tidak dan belum tentu, karena itu pelajaran panjang yang tidak akan berhenti sampai saya menutup mata.

Tapi saya bahagia dengan tapak tapak kecil yang saya lakukan dan akan terus belajar dari segala tawa, tangisan dan kegalauan, disinilah nikmat dan surga lain itu tersisipkan. Dan saya terbebaskan, bukan utuk menjadi sempurna tapi untuk menjadi bahagia dengan diri saya.

Canggu Bali, 16 September 2021

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.