Gundah Sesaat

“Realitanya adalah tidak semua orang akan menyukai kita, that’s ok, that’s normal lah” cecar wanita muda bermata besar dan beralis tebal hitam, dihadapannya duduk wanita yang terlihat lebih muda, merunduk dengan kedua tangan disamping kepala seolah menutup telinga.

“What I try to say is, don’t take it personally, we will die suffering if we do” Wanita muda bermata besar dan beralis tebal itu kembali berkata, tangannya meraih kursi disamping nya dan mencoba duduk.

Sudah beberapa hari ini Marina gelisah, dia merasa hidupnya gga nyambung, dia merasa sesuatu yang dicoba tidak berguna; melukis, menjadi influencer, berbagi cara nya berkreasi.

“Don’t think about others” Putri membuka mulutnya lagi, “I cant” jawabnya cepat. “Well, you have problem, dan kali ini, hanya kamu yang bisa menyelesaikan”-  “think about creativity, what make you hidup, membuat kamu tersenyum, joyful” Putri kembali merenda kata kata klise itu “aku bukan Marie Kondo!” Marina membalas tak bersemangat. Dipikirannya hanya ada jalan buntu, lelah dengan usaha menunjukkan kepada semua orang karya karya nya, merasa tidak ada tempat tersedia untuknya, menjadi pelukis influencer, dulu dia sangat bersemangat mencobanya, berharap bisa membukakan jalan untuknya.

“gga ada yang order lukisan, semua sibuk buat bertahan hidup” jawabannya waktu Putri bertanya kenapa berhenti berkarya. “not all about duit kan “ Putri berdiri, disapukan tangannya kerambut Marina “you are one talented lady, I adore you and I love you, let ‘s live” dikecupnya kening Marina, kemudian melangkah pergi.  

Sore ini, Marina tidak tau harus berbuat apa, pertemuannya dengan Putri membuatnya berfikir. Diraihnya kotak kuas yang beberapa bulan ini tidak pernah disentuhnya, sindiran Putri terngiang ditelinganya. Sudah berapa kali niat nya untuk membuat sesuatu terhenti, cibiran berbalut pendapat dari beberapa kawan “yach, baru juga kemaren belajar melukis, sudah jualan” “eyach, kan baru lulus kelas lukis nya, kok sudah sok berbagi tips, kan belum expert” versi lainnya kembali terdengar.

Kaki nya melangkah keruang berukuran 4 x 3, ruang acak acakan yang selama ini jadi kerajaan berkarya untuk nya, diletakkan kotak kuas, pikirannya masih kalut, ucapan demi ucapan silih berganti di pikirannya, dia mulai berandai, “andai aku sekuat Putri”, “andai aku bisa ceplas ceplos seperti Putri”, lirih kata kata itu keluar dari mulutnya.

Diraihnya kursi dan ditempatkan didepan easel, canvas 50×40 cm masih bersih dihadapannya. Tabung tabung cat warna mulai dibukanya, dan tak lama, barisan pilihan warna ada di didepannya, tangannya mulai sibuk, bibirnya yang komat kamit kesal mulai terdiam, pikirannya mulai tak bersuara, dan guratan guratan warna menghadirkan sosok dalam canvas. Tak lama sebuah raut wanita dengan mata memincing, seolah mengabarkan keraguan, tapi alisnya naik dan ujung bibirnya masuk kedalam, memberikan ekpresi senyuman seperti kepuasan. “Ah!” tiba tiba Marina bersuara “Hem” desahnya lagi, bagian dalam telapak tangannya menepuk pelipis kanan, dengan kuas masih ditangan “what a silly me” gumamnya. Tangannya kembali pada kanvas, kali ini ukuran terkecil diambilnya, dan disapukan warna abu abu, dalam canvas dia menuliskan “Aku”

Wanita itu meletakkan kanvas nya, berdiri dan memandang hasil karyanya, dagunya terangkat dan bibirnya menyunggingkan senyuman. Tangannya meraba kantung dan menarik benda kotak keemasan. Barisan aplikasi mulai bermunculan, jari itu mulai memilih Instagram, Facebook kemudian jempolnya naik keatas Remove App.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.