Gagal Beraksi

“Tidak ada yang lebih tinggi, lebih pendek boleh”, lelaki itu memberikan instruksi dan “pakaian harus hitam,” dia menambahkan lagi.

Ajudan didepannya, mengangguk tanda persetujuan, tapi toh pikirannya grundelan dengan pertanyaan, mau nya apa sebenernya lelaki ini.

Siang itu lapangan Warang penuh dengan manusia berbaju hitam, membuat rumput yang baru tumbuh lenyap menjadi kegelapan. Sosok muda berlari menghampiri gerombolan di ujung depan lapangan.

“Loh Ratno, baju hitam” seorang laki laki yang berdiri didepan gerombolan mengingatkan.

“gga punya pak bos” Ratno menjawab cepat,

“waduh, keluar kalau gitu, gga bisa, ketentuannya baju hitam”.

“ya, kalau gga punya gimana bos, sudah kan saya pemimpin barisan, bagus kali baju nya beda”.

Juno baru ingat, Ratno punya peran penting di gerombolan lomba 17an ini, pemimpin dan penata barisan, kalau dia pergi, kocar kacir gerombolan anak buah nya ini, mana bisa dia ambil alih di hari H begini, lagi pula dia harus ngisi pidato nanti.

“Ratno, cari pinjaman dulu”, teriaknya kemudian.

“Pak Bos, tinggal 5 menit, sudah gga ada waktu, lagian aturan nya kok ketat begini, saya penting loh ini posisinya” sergap Ratno mencoba protes setengah marah setengah bangga.

“wah… yach, gimana yach, ribut nanti bapak atasan, kena damprat kita.

“Pak bos, si bapak kenapa maunya hitam saja? Ini kan perhelatan kesenangan bukan duka”, Ratno mencoba memberanikan diri protes lagi.

Juno mengelus dada, yang di khawatirkan terjadi, gerombolannya diusir dari lapangan, gara gara Ratno gga serasi. Ratno merengut karena merasa pak Bos pengecut gga bisa berorasi, justru karena dia berbeda itu memberikan warna pada gerombolan yang Ratno yakin paling bagus aksi nya, tapi toh, dia harus minggir sambil menggerutu “susah, susah” kakinya melangkah pergi gara gara beda warna saja  dia gagal unjuk diri.

Pandemi, Canggu, Bali 14 September 2021

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *