Bapak

Katanya rumah mu sudah runtuh dan kau menghilang, itu sepenggal kata yang diucapkan orang tentang kepergianmu. Sosok yang dengan peluh rapuh menyebrang jalan, dengan bijak menyapa kegetiran hidup, dengan sabar menapak kejahatan hari.

Pertama kali aku bertemu dengan mu, waktu itu gerimis bulan Januari (kata orang hujan sehari-hari) tapi nyatanya, ini hujan pertama sejak seminggu ini, kemaraunya keterusan. “Bapak tinggal dimana?”,sapaku mencoba menyibak kebisuan sore. “Aku tinggal dimana saja, rumahku adalah dimana kakiku memijak”,katamu membuatku menganga.

Seiring rasa itu aku terus terhanyut dengan kehadiranmu. Selalu kuselangkan waktu untuk turun kedaerah itu. Daerah dimana kau selalu berkumpul dengan anak-anak kecil, membuat mereka tergelak, berteriak,  ajaib anak-anak yang tidak pernah mengenal lembaran buku, anak-anak yang tidak tau rasa kue bolu, terlihat bahagia lebih dari pada saat aku merasakan nikmatnya kue bulat itu.

Hatiku tak pernah lengah akan sosok mu, satu hari dipelataran rumah mu (aku yang juga bingung karena kau bilang tak punya rumah) paling tidak disitu tempatku menemukan mu dimalam hari.

Kau bercerita tentang hidupmu. Rasa penasaranku berubah menjadi kekaguman saat kutau yang terjadi. Kau punya anak dan istri dan mereka semua terhunus kekejaman hari, terlindas uang manusia serakah, tapi katamu, “manusia kaya itu tidak salah, hanya tidak tahu menggunakan rejeki limpahan Tuhan”, luruh mataku menatapmu. Sungguhkah kau menerima kematian mereka? padahal aku, satu potong kue diambil dari saudaraku saja aku ngamuk, kau…kau kehilangan segalanya, rumah, pekerjaan, dipisahkan dari keluarga. Dengan bijak mencoba menerima kenyataan kepergiaan yang tercinta.

Kenapa harus ada perbedaan, ada yang punya duit dan beli Merci kayak kacang, ada yang beli kacang saja tidak bisa, bahkan tak tau rasanya seperti apa. Getir aku menerima kenyataan ini. Pelajaran dan tamparan realita yang ada, keberadaan manusia tersingkir sepertimu, membangkitkan keinginan ku untuk memberontak pada penguasa.

Namun katamu, “sudahlah nak, jalani hidup mu sebaik mungkin, jangan kau rebut kue orang lain, itu saja sudah membuat negara ini lebih baik”.

“iya”, aku hanya mampu mengiyakan, karena iya, kau benar. Setidaknya aku bisa menjadi orang yang lebih baik. Seandainya semua orang berbuat seperti itu pasti negara ini akan lebih baik, “tidak usah muluk2″, lagi aku mengingat kata-kata yang selalu keluar dari mulutmu.

Kusodorkan api saat lintingan rokok butut keluar dari sakumu.”Bapak tidak usah merokok, sudah batuk”, kataku mencoba memberi perhatian, tapi aku tulus.

Kau tersenyum, “istri dan anak ku selalu bilang itu, tapi toh mereka mati lebih dahulu”, kali ini kata-kata mu sinis.

Aku yang tidak pernah tahu namamu, banyak yang kutemui dalam senja ditempat itu. Kau dan yang kau lakukan untuk anak-anak itu. Suatu hari kau memintaku datang dengan buku-buku cerita yang kupunya. Kau kumpulkan dan buat mereka penasaran dengan semua permainan yang kau ciptakan. Dan buku-buku itu menjadi hadiah yang tidak terbaca, kau lupa, mereka tidak bisa baca dan kau tertawa. “Maaf katamu”, hari itulah yang menyadarkan aku, inilah waktuku.

Hitungan ketiga bulan Maret, aku masih ingat benar. Dua bulan kuhabiskan waktu untuk mengenalmu dan mengejar kearifan mu.

Kuputuskan untuk lebih sering datang, bahkan aku sudah membuat jadwalnya. Setiap sore pulang kampus, Kau tau, betapa bahagianya aku hari itu, hari pertama aku berdiri didepan mereka ada kurang lebih lima belas anak, lusuh dan bau. Namun mereka tetap anak-anak yang polos, tidak ribut dengan berjuta keinginan.

Kuseka peluh sesekali karena tempat ini tidak terlindungi apapun,”Mba klo kepanasan aku payungin yah, pake kardus ini”, kata seorang anak yang aku tau kemudian bernama Seto. Kau yang memberi dia nama, Seto, sikecil yang tak berayah. Kau ayahnya sejak dia lahir, bahkan kau kemudian menjadi ibunya sejak kecelakaan kereta menepis harapan Seto akan kasih sayang ibunya.

Aku ingin menangis namun tidak, hari itu jadwalku adalah mengenalkan huruf-huruf pada mereka. Kerja kerasku semalam dengan membuat kertas-kertas huruf ternyata berbuahkan hasil. Mereka anak yang pandai dan kau adalah pendamping mereka yang setia. Mereka yang tidak pernah tahu bangku sekolah itu dalam waktu sebulan sudah mampu baca Bobo, majalah ku waktu kecil yang kudapati tertumpuk digudang.

“Kini kau bagian dari senyum mereka”, katamu membuat ku bangga. Aku bangga karena aku membuat orang lain bahagia, “bagaimana aku membahagiakan mu?” dan aku tanyakan itu. Kau tersenyum, “buat mereka mengerti bahwa hidup dan hari ini adalah belati, supaya mereka waspada, buat mereka tersenyum dan tunjukkan indah nya hari, maka aku akan bahagia”, katamu. Tapi itu sulit, dua sisi yang berbeda.

Aku lakukan yang kumampu, dua bulan terakhir aku jarang datang karena aku harus menyelesaikan skripsiku secepatnya atau orang tuaku akan membunuh ku, putrinya tak boleh gagal. Itu yang selalu kuingat dari ayahku, ayah yang sangat berbeda dengan mu.

Kau menerimaku saat aku gagal mengumpulkan anak-anak kecil asuhanmu untuk belajar, karena mereka hanya anak kecil yang ingin bermain, putus asa aku, tapi kau tersenyum, kau raih tangan ku, “tidak apa-apa mungkin hari ini mereka perlu bermain dan kau perlu istirahat”, sungguh aku ingin kata-kata itu keluar dari ayahku saat aku cape menjadi yang nomor satu. Maharani Putri, harus selalu menjadi yang terbaik untuk keluarga, dari mana keputusan itu keluar aku tidak tau, namun lama kemudian itu menjadi batu di bahuku. Lelah karena kadang aku ingin duduk bersandar dan bilang, “boleh aku tidak mengerjakan ini?”, tidak Ayahku pasti menolaknya.

Mungkin aku jahat membandingkan ayahku dengan mu, tapi aku bahagia memiliki dan mengenalmu. Sebahagia waktu aku datang menunjukkan hasil persetujuan dosen akan judul dan bahan skripsiku. Kau bahkan tidak mengerti apa itu, tapi sungguh kau membuatku berarti saat kau bilang kau bangga padaku, sesederhana saja. Namun itu tidak kudengar dari ayahku, sekali lagi maafkan aku, kalau aku harus membandingkan mu dengan ayahku.

Lama sekali sejak aku sibuk dengan konsultasi-konsultasi skripsiku, aku jarang menjengukmu. Aku rindu, namun saat aku ingin mengantarkan surat tanda kelulusanku, tak kulihat lagi gubuk itu. Aku syok, inikah kado hari bahagiaku. Bahkan aku tidak menelphon ayahku bahwa aku sudah lulus skripsi, aku ingin memberitahumu lebih dulu. Kau yang selalu mendukungku dengan kata-kata mu yang selalu masuk akal. Kebencianmu pada hidup tidak menyurutkan langkahmu untuk selalu membahagiakan orang lain.

Kakiku gemetar kutelusuri jalan itu, jalan yang sudah 2 bulan tidak aku pijaki, sepi, dimana mereka, dimana anak-anak itu, Seto, Antok dan yang lain, biasanya mereka main bola yang kubelikan. Capek, aku mencoba bersandar pada rongsokan rumah yang ada, “apa yang terjadi”kelu bibirku, kuremas surat dari dekanku, aku lunglai.

Dua hari kucoba mencari kabar tentang lokasi itu, tempat yang menurutku lebih bersih dari perumahan elit di jakarta ini, karena berisi manusia dengan hati bersih dan polos, sebersih hatimu, sepolos anak-anak itu.

Aku tersentak saat meraih koran 1 bulan lalu, keinginanku untuk membersihkannya dari kamarku membawa perih dan membersihkan kesabaranku pada penguasa, digusur, aku lemas. Dipindahkan kemana mereka, itu yang harus kutahu.

Kemarin adalah awal hari aku bergelar sarjana dan awal hari perburuan dan niatku untuk menemukanmu lagi. Seto terisak dipelukanku, “mba bapak kemana yah”,

“aku juga tidak tahu Seto”, seandainya kau memberitahuku, tapi bagaimana mereka bisa meleponku sedang untuk beli nasi saja tidak bisa apalagi untuk ke wartel.

“Aku akan mencari tahu Seto, tenanglah bapak pasti ditemukan”. Hari ini peluhku bukan karena panas matahari, tapi tangisan pertama yang tak kau seka.Kutelusuri lagi jalan ini, mencoba mencari jejakmu dan Seto menemaniku.

Gubukmu sudah hancur, Seto mengais-ais reruntuhan itu dan kubiarkan. “Kemana kau? kenapa kau tinggalkan kami? masih hidupkah kau?”. Sejam aku termangu ditemani Seto di reruntuhan gubuk mu. Kuputuskan untuk pulang kepemukiman baru, namun belum kakiku memasuki mobil kulihat rombongan orang menggotong seorang lelaki, Seto berlari, Bapak….

Aku tergugu, semua jelas, kami kehilangan mu, namun kau tampak bahagia. Bapak, sungguh, kau tersenyum. Terima kasih untuk waktu mu, hidupku tidak akan sempurna tanpa hadirmu, hari ini, kututup lembaran hidupmu dengan guratan pena emas, Bapak….

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.