Rasisme

“Menurut The New Oxford Dictionary of English, rasisme adalah :

(1) the belief that there are characteristics, abilities, or qualities specific to each race,  (2) discrimination against or antagonism towards other races.

Dalam The Contemporary English-Indonesian Dictionary ada tiga arti rasisme: (1) kepercayaan bahwa suku bangsa sendiri lebih unggul daripada suku bangsa lain; (2) diskriminasi atau prasangka terhadap suatu suku bangsa berdasarkan kepercayaan ini; dan (3) sistem pemerintahan dan masyarakat berdasarkan kepercayaan tersebut.

Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan rasisme sebagai paham atau golongan yang menerapkan penggolongan atau pembedaan ciri-ciri fisik (seperti warna kulit) dalam masyarakat. Password English Dictionary for Speakers of Bahasa Indonesia mengungkapkan rasialisme: (1) the belief that someraces of men are better than others; rasisme adalah (2) prejudice againts someone on the ground of his race.” — PR.

Bukan kebetulan kalau bahasan yang satu ini muncul lagi, sebenernya berawal dari acara ngopi week end kita, seperti biasa kalau sudah hari jumat = time for hang out be social, jumat ini acara simple, cuman ngopi, ngewine, ngepizza dipinggir pantai – Mano restaurant, close to Laluciola, bareng Jolie, Vips and Heps, berempat, eh ber lima (pupy join).
As you already know, gga mungkin gga orang bakal ngelewati pemandangan cute dari muka nya Jolie yang sebenernya sok imut itu. Mulai dari kita duduk ampe kita mau pulang ada ajach yang mampir cuman buat bilang she so cute, pretty pupy…lovely, etc, ada yang mampir, say hi, ada yang cuman ngeloyor pegang Jolie and not even looking at us…(kind of weird that one – I mean, hello!!!).
Yang paling menarik adalah salah satu dari mereka yang dateng dan ngajak ngobrol, pertanyaan lengkap tentang Jolie – remember kita ber-empat, well, 3 indonesia 1 western, wanita yang kebetulan western ini stand between us, talk about pupy that sit around us, but only make eye contact with one people which is my hubby, coz? — he western also?. Dah…annoying, yup!
Bicara soal rasisme, terkadang jadi ngerasa geli sendiri, lebihnya miris kali yach…kalau kasus yang ini mungkin lebih ngambil ke point kedua The Contemporary English-Indonesian Dictionary:(2) diskriminasi atau prasangka terhadap suatu suku bangsa berdasarkan kepercayaan ini.
Mungkin aku terlalu sensitif tapi kalau sudah ngomongin hal yang satu ini sopo tho yang gga sensitif, perjalanan pulang, as ussually we talk about anything termasuk of course how nice the evening was, and little annoy thing happent – and my husband also aggree and even angry about it — but we just dont bother – dont wanna blow our evening for silly thing. Well keadaannya adalah banyaknya perempuan Indonesia yang akhrinya menikah dengan warga negara asing baek secara sengaja (terencana) ataupun tidak sengaja, yang seharusnya bukan menjadi bagian dari rasisme itu.
Faktanya kejadian semacam itu bukan hanya terjadi di Indonesia – Bali, dan urusan jatuh cinta, pasangan hidup bukan nilai yang dijadikan relative untuk memberi identitas atau stempel klaim keburukan. Bukan salah wanita indonesia yang lain kalau toch ada salah satu dari mereka yang punya niatan buruk, dan melakukan hal buruk (kasus: harta)
Itu bukan sifat wanita Indonesia, itu bisa dilakukan siapa saja, dimana saja, kapan saja oleh lelaki atau perempuan. Tidak tahu datangnya dari mana toch proses stempel itu sendiri ada dimana mana – kejadian sore itu salah satunya. Yang jadi gerah adalah nasib yag sudah dengan bangganya menjatuhkan aku dipelukan seorang warga negara asing, yang akhirnya membuat aku gga pernah luput dari sorotan mata, pandangan aneh orang – orang dengan spanduk “rasisme”. Ironinya kadang pandangan itu datang dari orang kita sendiri, trus kalau yang itu namanya apa? rasisme juga kah? well – setelah ditelusuri ada lagi bagian kecilnya – karena dia orang jawa, jawa adalah..blah blah blah, bandung adalah blah blah blah…buntut atau kesimpulannya balik lagi di rasisme. sekecil apapun itu, diskriminasi terhadap identitas tetap rasisme, ya tho?!.
Yang indah adalah bahwa banyaknya pelajaran hidup yang terus bermunculan setiap hari di agenda ini – menjadi sesuatu yang mempertajam kita, apapun itu. Rasa syukur dan terus berusaha memandang segala hal dengan hati lapang toch terbukti membuat AKU secara pribadi menjadi lebih damai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *