Kepalan Hati

Aku tidak pernah merencanakan hal ini dengan cinta dan kesadaran yang ada, mengharuskan aku untuk meneruskan hidup kita hari buruk yang aku buat mengharuskan logika ku bergerak kesalahan yang menyeret aku menjadi manusia di awang-awang.
Dinda aku selalu bersyukur dengan ketekunan mu mendidik arjuna ku dan kini kau telah mempersembahkan satu lagi makhluk manis untuk bumi ini, untuk ku, Kau wanita perkasa, kenakalan anak dan kesibukan pekerjaan rumah menjadikanmu seorang ibu yang tidak mengenal dunia luar kejadian buruk yang ku buat membuatmu kehilangan teman-teman mu semakin tidak adil rasanya karena kau sudah kehilangan orang tuamu.

Aku tidak sanggup melukai mu aku tidak kuat melihat mu di hujani berbagai pertanyaan oleh wartawan-wartawan tabloid mingguan Aku tidak tahan melihat anak kita harus berhadapan dengan kilatan lampu dan pertanyaan dungu mereka, anak kita buah cinta kita tidak berhak menerima kecaman atau pertanyaan itu.

Dinda semua berawal dari sini.

Aku mengenal Seto limabelas tahun yang lalu, waktu itu aku duduk di bangku SMA, aku sudah merantau waktu itu, Jakarta kota yang menawarkan segalanya ; Ibukota yang sering mengisi mimpiku menawari aku segala kesempatan kegemaran ku menulis mendorong aku untuk pindah ke kota besar, meninggalkan kota Sumedang, dan benar di Jakarta inilah tulisan-tulisanku mulai dihargai bermula dari majalah dinding di sekolah sampai akhirnya mengisi kolom-kolom cerita pendek di majalah remaja.

Dinda kau masih ingat Seto? Yah salah satu teman yang pernah kuceritakan padamu, Dia datang kembali untuk membangkitkan rahasia lama ku kehidupan lain yang kamu tidak pernah tahu.

Dengan bantuan Seto aku menyelesaikan sebuah tulisan tentang kehidupan malam di Jakarta, permintaan dari redaksi yang cukup punya nama di Indonesia, bukan hanya karena honornya yang lumayan namun kupikir akan banyak pengalaman baru yang aku dapatkan. Seto, seorang bartender di sebuah klub malam, salah satu klub yang aku jadikan sumber tulisan, perkenalan kami cukup sederhana mungkin karena wajahku yang masih kedaerahan, membuat orang selalu melirik lucu padaku demikian juga sosok Seto. Dada bidang yang tersembunyi dibalik kaos ketatnya sering memberikan desiran halus di hatiku desiran yang kusadari mulai kurasakan sejak aku duduk di bangku SMP, sama ketika aku melihat bapak guru olahragaku dulu. Perasaan yang tidak pernah ingin aku gali lagi, sampai pertemuanku dengan Seto. Keakraban mulai terjalin bermula dari pertanyaan-pertanyaanku tentang jenis minuman yang banyak dibeli sampai minuman yang sangat memabukkan tawanya renyah menghapus anggapan sombong yang ditemui orang lewat wajahnya yang angker. Seto yang kemudian memberitahuku segala sesuatu yang tidak aku ketahui dengan dunia malam dia yang membukakan pikiranku tentang sisi lain di dunia ini cerita tentang seorang langganannya yang menghabiskan seluruh malamnya di klub tempatnya bekerja hanya karena takut tidur sendiri di rumah. Itu belum seberapa masih banyak cerita lain yang menjadi sumber tulisanku diwaktu libur Seto menemaniku berkunjung ke klub lain, ini menggembirakanku karena aku merasa lebih nyaman dan aman, berjalan dengannya ditempat yang berisi orang-orang di bawah pengaruh alkohol memang selalu membuatku merinding badanku kecil, kurus pula, dulu waktu SD teman-teman memanggilku kerempeng, wajahku juga pas-pasan itu pulalah yang membuatku memutuskan diri menjadi penulis aku sama sekali tidak punya modal untuk bisa disuguhkan di kalayak ramai pekerjaan dengan kesendirian lebih tepat buatku.

6 bulan sejak pertemuan rutin ku dengan Seto bantuannya memperlancar penulisanku aku menyelesaikan tulisanku lebih cepat dari waktu yang diberikan padaku masih aku ingat muka mba Bella salah satu staff di kantor penerbitan yang juga menerbitkan majalah remaja yang selama ini menerima cerita-cerita pendekku dan dari sanalah mereka mengenalku katanya 1 nama yang terpilih dari 15 nama penulis cerita pendek yang selama ini rajin menyetorkan ide ceritanya ke majalah remaja itu. Mba Bella seperti tidak percaya waktu aku sodorkan tulisanku yang sudah rapi terketik bener ne dek Raka? wah jangan jangan isinya jelek, harus diperiksa hati-hati ni katanya sambil tersenyum menggoda, dia memang cantik namun kecantikan tidak pernah membuat hatiku berdesir desiran yang selalu kurasakan ketika aku melihat Seto dan mantan guru olah ragaku waktu SMP, enggan aku menulis namanya.

Sebuah pesta kecil aku lakukan dirumah kos ku bukan pesta sebenarnya, karena yang aku undang cuma Seto masa SMA aku memang tidak banyak berteman teman ku hanya buku dan mesin ketik tua hadiah ayahku. Mesin ketik yang menemaniku merantau. Dua bulan setelah melalui proses koreksi dan resivi dari editorku, bukuku bisa dirilis, aku bersyukur karena tidak harus menunggu terlalu lama dua bulan saja aku sudah kawatir jangan-jangan tulisanku tidak masuk kriteria-tidak sesuai permintaan

Seto datang hari itu dengan kaos ketat putih dan celana jeans biru belel nya dia datang dengan sebotol Jack Daniel whisky kegemarannya dan 1 botol anggur merah, kami berdua tertawa bagai kegirangan aku menikmati kebersamaan dan keberhasilanku aku lupa entah seperti apa perasaanku waktu itu yang jelas aku semakin lepas tertawa dan mengeluarkan semua cerita-cerita konyolku di kampung tanpa sadar sebotol anggur teman kami makan steak sapi yang aku beli di restaurant di depan kantor penerbitan sudah habis entah aku atau Seto yang menghabiskannya, yang jelas kepalaku mulai pusing sudah tidak sempat lagi menikmati Jack Danielnya aku tidak biasa minum bahkan keluar masuk klub malam aku hanya minum orange juice. Malam itu aku menurut saja ketika Seto menuangkan segelas anggur merah itu katanya untuk merayakan keberhasilanku. Rasa kantuk mulai menyelinap beberapa kali aku menguap dan kulihat Seto menatapku tajam tatapan yang tidak aku mengerti ketika kemudian tangannya meraih badanku dan memelukku aku seperti pasrah tak bergeming tak menyadari bahwa kami satu jenis hanya desiran halus dan detup jantung yang keras berdetak ketika kemudian bibir basahnya menyentuh bibirku aku seperti terbuai perasaan yang tidak aku tahu dan rasakan sebelumnya. Seto dan aku malam itu menjadi dua kumbang yang bergelut kepanasan.

Aku semakin kreative buku-buku yang lain menyusul buku pertama ku dan hari-hariku dengan Seto terus bergulir, bahkan perasaan kami makin kuat.

Dinda iya Seto adalah masa lalu ku mungkin kamu heran masa lalu apa dia bukan sahabatku, dia bukan saudaraku, atau apalah yang ada dalam pikiranmu ini mungkin tidak bisa kamu terima sekarang dia adalah kekasihku iya dinda aku dulu berbeda kami bercinta cinta kami tulus waktu itu – perasaan yang pertama kali aku rasakan maafkan aku wanita ku — Aku tidak bermaksud menipu atau membodohimu dengan mengubur masa laluku tapi itu lebih baik kan Dinda?

Hubungan ku dengan Seto mulai renggang sejak orang tua ku mendapati kami berpelukan suatu saat ketika mereka menjengukku di Jakarta dengan air mata ibu ku mengiba sadar nak dia sama seperti kamu kalian laki laki nak! Inget Tuhan !! kamu akan dihukum sama Dia nanti!begitu terus dan terus sampai telingan ku pengar ayahku sendiri lebih bersikap diam dan sudah tidak mau menyebut namaku lagi mencoret aku dari daftar anak nya membiarkan aku hilang di telan bumi. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi
Ibuku kemudian jatuh sakit lebih banyak sakit hati dari pada jantungnya yang megap-megap ibu ku orang yang membuatku memiliki perasaan wanita, selain pengaruh 3 kakak perempuan ku. Dia tergeletak sakit, kata dokter sudah tidak ada harapan sempat aku menemaninya setelah kakak sulung ku marah-marah dan menjemputku ke Jakarta ditemani suaminya yang seperti mau menamparku dan mengeluarkan semua sumpah serapahnya, memaksaku untuk mengunjungi ibu.
Kulit ibu pucat kulihat jelas dari bibirnya yang tidak berwarna selang disana-sini menggelayut disekitar tubuh ibu, menggangguku, Ibuku terkulai dan satu permintaannya adalah aku, putra lelaki satu-satunya, aku harus pulang dan kembali menjadi putra bungsunya putra lelaki, sang penulis kebanggaannya aku harus menikah.
Hubunganku dengan Seto yang sudah berjalan 2 tahun, yang semula tidak terusik oleh siapapun akhirnya harus berakhir dengan kegentaranku melihat keadaan ibu dan tangis kakak-kakakku. Aku menyerah dan menyadari aku lebih cengeng dari mereka. Aku kalah.

Namun itu bukan sesuatu yang mudah aku harus pergi meninggalkan Jakarta, berharap dengan mudah aku melupakan kekasih lelakiku. Seto bahkan sempat kalap dan akan membunuhku, katanya aku telah mengkhianatinya.
Aku memutuskan hidup di Bandung. 3 Tahun kemudian berlalu begitu berat dan aku memutuskan untuk kembali ke Jakarta, kuselesaikan kuliah yang sempat tertunda kepergianku lagi ke Jakarta di sertai tangis dan harapan cemas ibu, kecemasan akan masa lalu yang akan membawaku pergi lagi darinya, namun sejujurnya dalam hatiku aku tidak mampu menjanjikan apa-apa untuk Ibu.

Penerbit langgananku menyambut aku dengan tangan terbuka sambil kuliah aku teruskan kebiasaan ku menulis, tulisan-tulisanku selama di Bandung bahkan sudah menjadi buku cerita tentang Seto, aku bilang pada mba Bella bahwa itu fiksi namun tidak.

Dinda kau ingat buku yang membuat kita berkenalan buku yang aku bilang cerita fiksi tentang dua lelaki yang memadu kasih saling jatuh cinta, cinta yang tidak lazim dan tidak boleh terjadi itu? Yah Dinda itu sebenarnya bukan fiksi, tokoh Arseto adalah kepanjangan dari nama Seto ku dan Bayu adalah aku, Dinda kau ingat waktu aku tergagap menjawab semua pertanyaan mu kita bertemu di perpustakaan kampus waktu itu aku sedang membaca buku ku sendiri lucu kedengarannya tapi memang kulakukan sore itu mata ku lelah pikiranku kacau aku rindu seseorang ,satu sosok yang aku tumpahkan lewat tulisan. Tulisan yang membawaku memperoleh berbagai pujian, tulisan yang kemudian memenuhi tabunganku dengan nol nol turunan yang semakin banyak, tulisan yang membuat ibu ku kembali menangis getir. Dinda kau begitu tertarik dengan bacaanku, bahkan kau tidak tahu sedang berhadapan dengan penulisnya. Pertemuan pertama kita yang akhirnya berbuntut pada pertemuan-pertemuan selanjutnya rengekan dan ajakan mu selalu kuturuti lamban dan perlahan dinda aku mengatur hati ku.

Aku semakin di kenal sebagai penulis di Jakarta, skripsiku sendiri sudah hampir selesai, bukan hal yang sulit buatku tentunya,kuliah sastra, bertemu dengan banyak orang yang menyukai dunia menulis tetap tidak menurunkan kegeniusanku mengupas masalah, namun menurunkan kegeniusanku sebagai lelaki mutlak, saat aku bertemu dengan wanita pertamaku. Wanita yang kemudian menjadi hadiah buat orang tua ku, wanita yang berkata jujur mengagumi dan mencintaiku, wanita yang kepadanya ibu ku sangat berterima kasih apa lagi setelah cucu yang aku berikan, sosok wanita yang hidup dari limpahan harta orang tua dan berani meninggalkan nya dan melepaskan jabatan sebagai putri di rumahnya, hanya untuk menikah dengan lelaki bekas pesakitan, pesakitan jiwa.
Kemarahan orang tuanya tidak menyurutkan cintanya pada ku, itu yang membuat ku lemah pasrah menerima cintanya dan meminta orang tuaku menikahkan kami, kemarahan orang tuanya yang mengingatkan aku dengan kemarahan orang tuaku ketika bersama Seto, akh masa lalu ku.

Dinda memang aku tidak mencintaimu pada saat kau meminta ku menjadi kekasihmu namun kegigihan dan kekuatan kasihmu melemahkan hatiku, niat baikmu menumbuhkan tanggung jawabku, kegugupanku menjalani malam pertama dibalik kelebatan bayangan Seto seolah terhapuskan dengan tingkahmu yang manis, hari yang kita lalui menyadarkan aku bahwa kau wanita sesungguhnya, tekadmu meninggalkan keluargamu dan memutuskan menikah denganku menambah nilai mu dibuku catatan ku. Aku terkagum-kagum mungkin karena tidak ada wanita yang melakukan hal itu padaku, geli aku selalu mengingat rengekan mu, sebenarnya apa yang kau sukai dari lelaki butut macam aku? Namun dinda saat aku menulis ini aku dengan perasaan yang tulus dan kelelakianku yang sebenarnya mencintai mu ibu dari arjuna ku.

Persiapan penikahan ku membuat semua orang rumah keliatan sibuk wajah ibu tak pernah lepas dari senyum dan ayah ku mulai menyapa dan berbagi rokok dengan ku lagi, kakak-kakak perempuanku nampak telaten merancang dan memesan semuanya semua persiapan memang dilakukan keluargaku karena ini pernikahan tunggal orang tua istriku tidak akan datang hanya paman nya yang sangat menyayanginya rela menjadi bulan bulanan ayahnya karena menuruti keinginan istriku untuk menjadi wali. Pernikahan besar yang kemudian diikuti hadirnya arjuna kecilku Mahendra Putra, bayi yang seolah memberikan stempel lelaki sejati di tubuhku. Tubuh mungil yang membulatkan niatku untuk mengabdi pada istri dan anakku.Dan semua masa lalu ku kukubur bersama ari-ari kelahiran Mahendra, potongan tali pusar, memotong semua desir di hatiku untuk sosok tegap di masa lalu ku.

Namun dunia seolah tidak rela melihat kebahagiaanku buku ku kepalan hati mendapat sorotan lagi bertahun tahun sesudah diterbitkan, aku sendiri keheranan, katanya tulisannya berasal dari kisah nyata dan aku lah pelaku nya dan walaupun itu benar kisah nyataku – kurasa mereka tidak berhak membuka tabirnya.
Buku tentang Arseto dan Bayu Aji membuat wartawan selalu mendatangi rumah ku dan mengusik Mahendra dan ibundanya. Pertanyaan seputar kehidupan pribadi ku yang menjadi tanda tanya besar, bahkan mereka mendatangi orang tua ku di Sumedang.
Seperti tidak adil karena luka lamaku terkuat, aku sendiri heran dari mana mereka mendapat ide itu mba Bella yang terus mendukung ku dan menjadi teman bicaraku selalu mengatakan bahwa kebesaran namaku menjadi penulis membuat orang-orang iri dan ini bagian dari cara mereka melemahkan aku, dia yang selalu meyakinkan aku untuk tenang tapi aku tidak bisa karena sejujurnya adalah benar ini cerita nyata dan kebohongannya adalah aku telah mengatakan pada dunia bahwa itu hanya cerita khayalan ku saja.

Dinda tanpa kemarahan kau pernah meminta penjelasan jujur ku, tentu aku tidak mau melukaimu, tentu aku tidak mengatakan kebenarannya,, keinginanmu untuk pindah dengan alasan ketenangan dan untuk kebaikan anak kita aku turuti. Dinda aku sendiri bingung siapa yang berani mengusik masa lalu ku,  setahu ku hanya orang tua, kakak kakakku, dan Seto saja.

Aku terus berusaha mengetahui nara sumber berita yang menguakkan semua masa laluku ini lambat ketelusuri tanpa bantuan siapapun aku mulai membuat janji dengan beberapa wartawan yang kuketahui adalah orang-orang yang pertama melontarkan pertanyaan tentang Kepalan Hati. Suatu hari aku bertemu dengan Budiman wartawan sebuah tabloid yang sangat gencar mengekspos gosip yang beredar renyah tentang penulis Kepalan Hati yang ternyata seorang pria mantan pacar seorang lelaki.
Manusia satu ini kelihatan sangat cerdik, kulihat mata nya selalu berkilat bersamaan dengan kata-kata dan segala pertanyaannya aku harus berhati-hati. Ketika kemudian hatinya mulai melemah dengan segala ceritaku tentang perjuangan masa remajaku untuk menjadi penulis seperti sekarang ini tentang anak-anak kebanggaan ku dia mulai sedikit ragu dan perlahan dia mulai bercerita tentang pertemuannya dengan Arseto tokoh nyataku.

Benar Dinda, Seto masih dendam denganku karena aku meninggalkannya bahkan dia sangat membenciku dia ingin menghancurkanku Seto pernah hendak membunuhmu juga itu kuketahui kemudian. Suatu sore, dengan keberanian aku menemuinya setelah dengan bantuan Budiman, wartawan tabloid itu aku menemukan rumahnya. Dinda dia masih seperti dulu, namun kulihat sorot kemarahan dan dendam itu begitu tajam dia marah, tangannya kuat meremas pundakku, ketika tangannya segera kutepis dan ketangkis kasar dia tersadar aku sudah berubah, dia mulai menghujaniku dengan seluruh kata-kata kotornya Dia menyebutmu dan mengasihani keberadaanmu menjadi wanita yang memperoleh bekasnya dia begitu bernapsu mencemoohku nafasnya tersengal karena bicara tanpa putus. Aku berusaha menghentikannya, kucoba menyela seluruh umpatannya, Dinda aku lakukan lagi kekonyolan ini untuk masa depan kita , untuk anak kita. Aku sudah berubah Seto itu masa lalu, kalau kau masih mencintaiku, kenapa kau lakukan ini semua, kau buka masa lalu kita, kau hancurkan karirku, kau ganggu anak dan istriku, Seto itu hanya melukaiku orang yang katanya kau cintai, kalau kau masih mencintaiku biarkan aku memilih pilihanku ini. Aku lihat dia berdiri kaku, matanya masih tajam menatapku – tetap seperti dulu – Arseto ku yang tegar. Kepalan Hati adalah hadiahku untuk mu aku tidak pernah membencimu, jangan buat aku membencimu dengan perbuatan mu ini, Seto aku mencintai wanita ku.
Dinda, dia melemah, manusia yang kukira sekeras baja itu terduduk lunglai di karpet merah rumahnya dia tersungkur didepanku dan memeluk kakiku. Dinda aku tidak bisa menghindar, isakan tangisnya menahan kakiku bergerak. Maafkan aku, aku merasa kamu mengambil keuntungan dari masa lalu kita dengan Kepalan Hati memperoleh segalanya sedang aku terpuruk disini merindukan hadirmu. Kata-kata Seto kuakui lebih manis dari rayuanku untukmu Dinda Hati ku berdesir.
Dinda, pertemuan ku dengan Seto tidak sesukar yang aku bayangkan namun juga tidak semudah yang aku pikirkan kuakhiri dengan memeluknya erat, dan meminta maaf.

Lambat berita tentang masa laluku tak muncul lagi di tabloid, orang sudah melupakannya seiring dengan semaraknya kabar tentang goyangan seorang gadis penyanyi dangdut yang membuat heboh seluruh penjuru Indonesia, fenomena goyangan baru katanya dunia dangdut menjadi semakin semarak ada yang protes ada pula yang mendukung selalu begitu sama dengan kasusku dan semua kasus lain di muka bumi ini – dibalik semua itu aku lega karena aku bisa sedikit bernafas.

Dinda ketika kau membaca ini kau harus tahu aku malakukannya dengan cintaku kejujuran yang harus kau tahu karena aku tidak bisa menyimpannya lagi Aku merasa seperti pengecut yang bersembunyi dikubangan lumpur tidak adil rasanya aku terus membodohimu aku tidak bermaksud begitu dinda aku tidak mau kehilanganmu kelahiran Rama membulatkan hatiku untuk membuat pengakuan ini setidaknya aku lega dan berat beban dipundak ini tersingkirkan. Kepalan hatiku meregang dan genggaman tanganmu menghangatkan nya…
Rasanya aku tidak berhak memintamu untuk menerima pengakuan dan memaafkan aku namun aku melakukan ini karena aku mencintai mu..
Cinta ku untuk mu Dinda Putri Maharani.

Ku akhiri tulisan ku hari ini, satu cerita yang harus segera kukirim ke editor ku, mata ini sudah sulit melihat layar putih. Aku matikan komputer, kekasih ku sudah menungguku. Sudah larut Raka, besok juga bisa kau teruskan, kemari, aku kedinginan…Suara lembut Arseto ku membawa kakiku melangkah masuk kekamar.

Jakarta, Juni 2004

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *