Katakoe

Sekedarnya…

Skip to: Content | Sidebar | Footer

"Pena"

29 July, 2007 (20:53) | Little Note

Rasanya seabad, kangen, saya baru sadar rasa dan pentingnya menulis, untuk kepuasan diri saya sendiri.

Sebuah kepuasan yag entah kenapa tidak bisa dibandingkan dengan apapun.

Rasanya hari kemarin banyak yang lewat tanpa sebab, terlupa tanpa kata, karena saya menjadi pembangkang nomor satu untuk mengabadikannya.

Cerita tentang manusia batu yang begitu rapi tertata dalam teori, lewat.

Cerita rentang sepuluh tahun saya dan adik saya,lewat.

Cerita bertemu lagi si cinta monyet pertama, lewat.

Cerita 365 hari menjadi istri, lewat.

dan lain lainnya, semua menjadi ide tanpa arti, kenyataan yang tak terbukti, setidaknya untuk orang lain.

Pernah mencoba menjadi seperti yang lain, bergaya pop dan bercerita dengan bahasa “pop”, begitulah mereka menyebutnya.Toch akhirnya saya tidak bisa menghasilkan apa apa bahkan catatan diary pun tidak ada, hasilnya, saya tertawa pada diri sendiri parahnya saya ditertawkan.

Akhirnya inilah saya, manusia lama, bolehlah dipanggil begitu, dengan gaya dan cara saya sendiri, saya merasa puas, tidak perlu menjadi seperti yang lain hanya karena mengikuti jaman, toch semua kembali pada saya.

Saya merasa terhakimi, saat melihat serakan kertas penuh ide dengan rencana rencana besar, serangan serangan maut, trik ala masa kini.

Deretan buku buku yang saya beli habis sudah terbaca, semua tidak ada yang membuat saya membandingkan sebuah karya, bahkan buku baru yang katanya buku terlaris di Gramedia dengan 5 seri cerita budaya fiksi “Gajahmada” malah membuat saya ngakak dan terheran heran, kenapa? kok bisa?

Seambigu bahkan wagu apapun toch mereka lebih unggul dari pada saya, lah wong buku terlaris, ada talk show malah…Lah saya apa? terkurung bukan terkungkung, tidak berguna.

Hi, apa kabar semua teman kata?

Marah? jengkel? kecewa? muak? monggo monggo, saya cuma bisa minta maaf, maafkan saya menjadi budak pekerjaan, menjadi abdi mata uang dollar menjadi kekasih keadaan.

Karena ini lebih nyata, karena inilah kenyataan nya, inilah yang membuat saya bertahan hidup, dapat makan, dapat dandan, dapat beli gincu baru, baju baru malah berncana beli wig baru. Saya cuma bisa minta maaf.

Salah, kalau akhirnya semua kembali ke perut, toch tulisan tidak bisa memberi saya makan, ndilalah…

Tapi kok saya masih lapar? saya suka limbung? saya suka ngawur? nda ada ladang tempat saya mengumpat, gga ada ember tempat saya muntah, gga ada bantal tempat saya menganis, nda ada pelukan tempat saya berbahagia.

Saya tahu …saya tahu…sudah! tidak usach mencerca saya, setidaknya saya kembali hari ini, sekedar nyinyir sampe bibir saya bisa dikucir, tapi hey…saya tersenyum, percaya? yach saya tersenyum, cantik loh…

Write a comment