Dentuman “Wong Zholim”
Pagi ini aku putuskan untuk tidak buang air besar. Aku tidak bisa bersabar mengantri di MCK. Meski ini kesalahanku karena bangun kesiangan, tetapi aku tetap menyalahkan mereka yang ngantri membuang hajatnya. Aku sudah begitu muak dengan kemunafikan yang yang berlangsung di sekitar MCK setiap pagi.
Terlalu banyak basa-basi yang membuat aku muntah. Bagaimana mungkin rasa hajat yang begitu menggelora bisa ditahan bila seseorang yang antri di belakang adalah gadis cantik dengan muka memerah yang juga karena kebelet. Sungguh kebohongan besar. Apalagi rasa iba dan simpati kepada gadis itu dipersembahkan hanya demi mendapatkan senyum manis subjektif dan anggukan tak bermakna. Senyuman atau anggukan tanpa tindak lanjut. “Setan, kotoranku saja tak punya kebebasan,” aku menggerutu sambil nyelonong pergi dari MCK. Dalam hitungan detik aku keluar, aku berpapasan dengan tiga orang tentu saja dengan tujuan yang sama, buang hajat. Padahal MCK yang kutinggalkan tadi masih menyisakan delapan orang. Rasanya mustahil mereka bisa bertahan, karena hanya ada satu kamar untuk buang air besar, selebihnya adalah tembok pesing berlumut, pompa air karatan, tumpukan sampah, dan genangan air yang telah berjamur. “Gila !!, sampai jam berapa mereka bisa mengeluarkan si kuning?” Aku mencibir, dan berlalu. Itulah hari-hari yang biasa aku mulai. Hari-hariku dimulai dengan suguhan romantis dan mengiris.


















